Dimanakah Guru Tanpa Tanda Jasa Itu Kini ?

Pada peringatan Hari Guru seringkali diperdengarkan lagu Hymne guru yang liriknya telah berbeda ketika saya SD dulu. Bagi yang sering mendengar lagu ini, terutama yang berkecimpung di pendidikan pasti tahu letak perbedaannya dimana kalimat “Pahlawan Bangsa, Tanpa Tanda Jasa” diganti dengan “Pahlawan Bangsa Pembangun Insan Cendekia”. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia kata “cendekia” diartikan tajam pikiran; lekas mengerti (kalau diberi tahu sesuatu); cerdas; pandai. Cukup itu sajakah fungsi guru di masa sekarang ini?

            Dalam Undang-Undang No 20 tahun 2003, pasal 3 jelas dituliskan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Jelas sekali disini bahwa pendidikan kita tidak berorientasi pada kecerdasan otak (IQ) saja, tetapi juga kecerdasan yang lain seperti spiritualisme (SQ) dan Kecerdasan emosional (EQ). Makna cendekia yang sempit berarti cerdas secara (IQ) harus diperluas dengan cerdas spiritual (SQ) dan cerdas emosional (EQ) agar tujuan pendidikan nasional kita tercapai. Dan untuk tujuan itulah guru-guru tanpa tanda jasa itu ada.

            Topik hangat di pendidikan kita saat ini adalah pelaksanaan kurtilas (kurikulum tiga belas) yang sering diplesetkan jadi kurikulum tidak jelas. Konon di kurikulum ini telah lebih banyak menekankan aspek afektif atau pembentukan sikap peserta didik yang sebenarnya juga sudah termuat pada kurikulum sebelumnya, kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP). Belum lagi adanya kurikulum berkarakter, yang intinya menekankan adanya pembentukan sikap atau karakter dalam setiap proses pembelajaran. Pendidikan karakter akhirnya seperti dipaksakan dalam ranah kognitif, tertuang dalam rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP). Padahal pendidikan karakter, kecerdasan emosional (EQ) dan kecerdasan spiritual (SQ) tidak hanya cukup dilaksanakan dalam ranah kognitif (otak kiri) tetapi juga menggunakan otak kanan dan hati.

            Guru profesional adalah guru yang memiliki empat kompetensi yaitu kompetensi pedagogik, kompetensi profesional, kompetensi sosial dan kompetensi kepribadian. Secara global adanya tunjangan sertifikasi pada profesi guru saat ini lebih banyak diukur pada kompetensi pedagogik dan profesional, sedang kompetensi sosial dan kepribadian masih cukup sedikit sebagai tolak ukur. Jika bisa dikatakan, kompetensi pedagogik dan profesional itulah yang lebih berperan untuk mendapatkan sertifikat pendidik dan tunjangan sertifikasi, dan kompetensi sosial dan kepribadian sebenarnya tidak mengenal tanda jasa. Itulah nilai luhur yang ada dari seorang guru sejati. Bahkan untuk dapat mengajarkan EQ dan SQ sebagai pembentuk karakter peserta didik, seorang guru harus mampu memiliki kompetensi kepribadian yang mantap. Dan kompetensi ini diperoleh seorang guru dari pembelajaran sepanjang hayat, sebagai seorang pembelajar sejati.

Keberhasilan pendidikan membentuk manusia paripurna yang cerdas IQ, SQ dan EQ tidak hanya ditentukan oleh kurikulum, tetapi oleh pelaku pendidikan yaitu guru-guru tanpa tanda jasa. Boleh dikata, apapun kurikulumnya, guru tanpa tanda jasa kuncinya. Dimanakah guru-guru tanpa tanda jasa itu? Mereka berada pada sosok-sosok guru yang tidak hanya kognitif oriented, tapi juga berorientasi pada pembentukan SQ dan EQ peserta didik. Mereka tidak hanya guru mata pelajaran budi pekerti dan akhlak mulia, tetapi semua guru yang memahami arti penting keteladanan dengan ketulusan dan keikhlasan hatinya selalu berjuang memberikan pembelajaran untuk kecerdasan otak dan hati, untuk mengasah pikir otak dan pikir hati peserta didik mereka. Mereka adalah yang menjadikan semua aktivitas di sekolah sebagai pembelajaran bermakna baik intrakurikuler maupun ekstrakurikuler.

            Lembaga UNESCO (United Nations, Educational, Scientific and Cultural Organization) mencanangkan empat pilar pendidikan baik untuk masa sekarang maupun masa depan, yakni: (1) learning to Know, (2) learning to do (3) learning to be, dan (4) learning to live together. Dimana keempat pilar pendidikan tersebut menggabungkan tujuan-tujuan IQ, EQ dan SQ. Pilar ketiga dan keempat merupakan ranah SQ dan EQ. Ada kata-kata bijak “We cannot teach what we want, we only teach what we are” yang artinya kita tidak bisa mengajarkan apa yang kita inginkan, tetapi kita hanya bisa mengajarkan sebagaimana apa adanya diri kita. Guru tanpa tanda jasa akan mampu mengajarkan SQ dan EQ karena mereka sendiri pun memiliki kecerdasan itu.

            Dalam mencerdaskan bangsa (kecerdasan otak dan hati) ada kunci utama sebagai seorang guru tanpa tanda jasa yang dirumuskan oleh Bapak Pendidikan kita Ki Hajar Dewantara yaitu ing ngarso sung tulodo, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani. Ing ngarso sung tulodo di depan memberi teladan. Guru sebagai teladan sangat dibutuhkan untuk memberi contoh kebiasaan-kebiasaan baik yang akan membentuk karakter peserta didiknya. Dan keteladanan hanya akan berhasil jika dilandasi dengan keikhlasan guru sejati dan konsisten (istiqamah). Ing madyo mangun karso, di tengah membangun kreativitas. Seorang guru juga harus kreatif. Guru yang selalu berinovasi dalam pembelajaran dan juga dalam menggunakan teknologi informasi, kreatif dan kritis akan meningkatkan motivasi siswa dalam belajar serta merangsang kreativitas siswa. Terakhir tut wuri handayani, di belakang memberi dukungan. Guru harus mampu memberikan dukungan motivasi ketika di belakang. Guru sejati adalah sosok yang tidak senang untuk tampil dan diagung-agungkan. Guru sejati pada masa ini adalah motivator bagi peserta didiknya, pembimbing peserta didik dalam melukis impian-impian mereka.

            Kesimpulan dari tulisan ini, guru tanpa tanda jasa adalah guru penyampai ilmu dan penyejuk qolbu. Penyampai ilmu karena mereka memiliki kompetensi pedagogik dan profesional, penyejuk qolbu karena mereka memiliki kecerdasan hati untuk mengajarkan spiritualisme, memberikan ketauladanan dengan ketulusan dan keikhlasan, kebijakan dengan kesederhanaan serta berbuat untuk kebermanfaatan. Sosok guru sejati, guru tanpa tanda jasa adalah guru yang dapat mengajarkan kecerdasan hati, yang  nasehat, tindakan, perilaku dan sikapnya mencerminkan ketulusan hati, keikhlasan, kesungguhan hati dan kebermanfaatan bagi anak didiknya. Membentuk karakter baik siswa, pada hakekatnya adalah bagaimana seorang guru mampu mengajarkan kecerdasan hati. Dan Kesungguhan kita dalam menjalankan kewajiban sebagai guru tidak akan lepas dari apa yang ada di dalam hati kita. Siapakah guru tanpa tanda jasa itu? Mereka tidak dilihat dari PNS atau honorer, tapi merekalah guru yang memiliki kecerdasan hati, dan keikhlasan dalam menjalankan kewajiban sebagai guru. Selamat Hari Guru, Pahlawan bangsa Tanpa tanda Jasa