Melukis Mimpi Tuk Hidup Kembali

trisni terataiSetelah menunggu selama musim penghujan, akhirnya muncul juga kuncup teratai itu. Pernah terlintas kekhawatiran bunga itu tak kan muncul kembali karena lamanya tanaman ini untuk menampakkan kembali bentangan daunnya di kolam yang tak cukup luas itu. Cukup bersih memang kolam itu dibanding sebelumnya, tetapi tak menjamin teratai itu untuk segera menampakkan kehadirannya. Memang sekali waktu pernah  kuajak ia berbincang karena kuyakin dia masih ada disana.  Mungkin dia lah sahabat terbaikku sejak kuada disana. Membincangkan keyakinan dengannya  adalah ilmu,  walaupun tak selamanya teratai itu selalu kuat dengan keyakinannya. Ada kalanya saat-saat dimana dia membutuhkan sesuatu untuk mampu hidup kembali setelah berdormansi selama kemarau panjang, tetapi… bukan karena dia tak yakin lagi, bukan karena dia telah  merasa lelah bukan pula karena putus asa.

Dalam kehidupan   karena perjalanan mata pikir hati dalam mengarungi luasnya alam pikir hatinya, ada kalanya membuat satu titik dimana makhluk hidup tak lagi memiliki mimpi yang ingin digapainya. Satu  titik dimana ia tak mampu untuk memiliki alasan mengapa ia harus terus berada dalam  alam yang tak kekal.  Satu titik dimana keyakinannya tak lagi memiliki arti dan kekuatan. Dan pada titik itulah mungkin teratai tak jua mampu membuat alasan, tak mampu membuat dorongan, motivasi pada dirinya untuk tumbuh dan menampakkan diri di permukaan kolam itu.

Teratai menunda kehidupannya muncul kembali di kolam itu, untuk menemukan dan merenungkan kembali apakah ada yang ingin diimpikannya, membuat satu mimpi yang kan membuat keyakinannya mampu bersinar dan memberikan kekuatan kembali. Mimpi itulah yang akan memberikan jalan bagi keyakinan itu untuk memancarkan kembali kekuatannya, karena tanpa mimpi keyakinan itu juga hanyalah batu biasa walau sesungguhnya adalah permata. Kehidupan adalah selalu pembelajaran yang memberikan kebermaknaan, menjalani kehidupan bagi sebagian makhluk adalah dimulai dengan kebermaknaan itu sendiri, karena hakikatnya penciptaan makhluk juga dari pemaknaan yang maha luas yang semakin diarungi dalam pikir hati  makhlukNya semakin membuat diri tak bermakna dihadapanNya. Dalam  tak kebermaknaan itulah akhirnya teratai itu tersadar bahwa hanya Dia yang memiliki makna itu dan hanya dengan bergerak untuk meraih mimpi ia akan memperoleh makna yang hakiki dariNya. Kehidupan bukanlah tujuan tetapi untuk memaknai yang hakiki dariNya dalam perjalanan meraih mimpi yang diridloiNya. Selamat hidup kembali terataiku..bertemu kembali di penghujan mendatang