Archives

Belajar Keyakinan dari Teratai

Sekolah tempat saya mengajar memiliki area yang cukup luas dan masih ada beberapa lahan yang belum dimanfaatkan. Diantaranya adalah dua kolam kecil yang agak kurang terurus tetapi masih dapat kami manfaatkan sebagai sumber pembelajaran.

Ada satu hal yang membuat saya tercenung sebentar ketika mengamati ekosistem kolam tersebut. Suatu tempat yang kelihatannya kotor, dengan air keruh menggenanginya ternyata mampu tumbuh tanaman teratai yang sangat indah. Terasa ada sesuatu yang menggugah hati ketika Allah berikan kenikmatan berupa keindahan teratai itu. Keindahan yang tidak hanya ditangkap oleh mata tetapi keindahan yang tertangkap juga oleh hati.
Tanaman teratai di kolam itu baru saja tumbuh setelah sekian lama menghilang saat kolam itu mengering di musim kemarau. Saya sempat mengkhawatirkan jika teratai itu tidak akan muncul kembali karena sepanjang kemarau lalu kolam tersebut telah berubah fungsi menjadi tempat sampah. Karena itu hadirnya teratai tadi adalah sesuatu yang mampu menyentuh hati saya waktu itu, yaitu bagaimana ketika kemarau datang keindahan teratai itu hilang begitu saja dan saat hujan tiba ternyata sang teratai mampu memberikan keindahannya kembali. Dari semua itu saya yakin bahwa dengan dalamnya ilmu yang dimiliki, teratai itu mampu menunjukkan kembali keindahannya kepada makhluk lain yang melihatnya, mampu hadir kembali bagi lebah-lebah yang selama ini menghisap madunya.
Tanaman teratai….. menunjukkan keikhlasannya kepada Allah dengan menerima untuk hanya tinggal ditempat yang dianggap tidak berguna dan tetap mampu memberikan sesuatu yang terbaik dari dirinya yang bermanfaat bagi makhluk yang lainnya. Tanaman teratai juga mampu menjadi sesuatu yang tidak serakah untuk memiliki semua kebaikan hanya untuk dirinya, tetapi dia sudah cukup hanya dengan memiliki penampilan yang sudah mampu menyenangkan makhluk yang melihatnya dan juga memberikan tetes madunya bagi lebah-lebah di sekitarnya tanpa perlu memberikan harum semerbak seperti bunga-bunga yang lainnya. Dengan ilmu yang dimilikinya, teratai tidak membutuhkan bau harum agar makhluk lain yang mungkin tak melihatnya dapat mencium bau harum yang terbawa hembusan angin. Teratai tidak membutuhkan pujian maupun sanjungan dengan bau harum itu, tetapi cukup bagaimana dia mampu memberikan sesuatu yang bermanfaat bagi sekelilingnya. Membuat indah lingkungannya dan bermanfaat bagi lebah.
Apa yang menjadikan teratai itu sedemikian indahnya? Dilihat pada kolam yang berair keruh itu, teratai tampak tenang dan hanya goyangan-goyangan daun dan bunganya tertiup angin sepoi-sepoi. Ketenangan dalam hidupnya itu menunjukkan bagaimana kekuatan keyakinannya kepada Allah dan menjalani semua kehidupan hanya dengan ikhlas dan yakin padaNya. Dan ketenangan itu sendiri adalah bukti kekuatan keyakinannya kepada Sang Penciptanya. Keyakinan bahwa segala apa yang dia terima dalam hidup, baik yang dia senangi atau tidak, baik yang dia inginkan atau tidak, baik berupa kebaikan atau keburukan (musibah) yang terjadi padanya adalah sesuatu yang pasti dalam perhitunganNya, pasti dalam IjinNya dan tidak ada yang sia-sia. Keyakinan bahwa keikhlasan itu harus dibuktikan dengan memanfaatkan kehidupan dengan sebaik-baiknya untuk bisa bermanfaat bagi sekelilingnya. Keyakinan ini tidak tampak bagi makhluk yang hanya menggunakan matanya dan tidak menggunakan hatinya, karena teratai itu hanya tampak daun dan bunganya yang indah di permukaan air, tetapi hatinya yang tak terlihat selalu berjuang untuk mempertahankan keyakinannya. Akar teratai yang berada di bawah permukaan air tetap berjuang untuk memberikan yang terbaik bagi sekelilingnya, walaupun tak pernah terlihat dari permukaan. Itulah wujud keikhlasan dari teratai, karena teratai harus berjuang dengan segala upayanya untuk memberikan yang terbaik bagi sekelilingnya tetapi tak pernah menunjukkan betapa berat perjuangannya. Dan keikhlasan yang dimilikinya itu tidak akan sedemikian besar tanpa adanya Keyakinan dia yang kuat kepada Allah. Keindahan yang dimiliki teratai tidak dari wujud dirinya yang ada dipermukaan air, teratai itu lebih indah karena keikhlasannya dalam menjalani hidup. Dari tanaman teratai itu kita perlu untuk menginteropeksi diri kita, sudahkah kita punya keyakinan itu, atau berapa besar keyakinan kita kepada Allah. Semoga kita bisa belajar dari sang teratai dan menjadi manusia yang lebih baik.*

Peran Guru dalam Mencerdaskan Bangsa (Sebuah Paradigma Baru)

“Guru adalah penyampai ilmu, penyejuk qolbu”

Menjadi seorang guru, akhir-akhir ini banyak menjadi sorotan di masyarakat. Betapa tidak, sebagian besar guru telah memperoleh “penghargaan” berupa dana sertifikasi yang banyak membuat iri pegawai pemerintah yang lain. Tak mengherankan pula jika profesi guru khususnya di daerah  belakangan ini kembali diminati dan banyak orang tua yang menyarankan anaknya untuk melanjutkan pendidikan di jurusan kependidikan.

Guru memang seperti profesi yang menjanjikan saat ini, tapi dibalik cerahnya profesi ini juga muncul kewajiban dan tanggung jawab yang lebih besar kepada bangsa. Kondisi bangsa kita yang sedang memasuki era globalisasi, dengan banyak permasalahan multi dimensi tentunya membutuhkan modal dan pemecahan terhadap semua permasalahan itu. Korupsi, pertikaian antarwarga juga antarpelajar, kemerosotan moral, kemiskinan, kesenjangan sosial dan pergeseran budaya merupakan contoh dari permasalahan tersebut. Inilah  kewajiban para guru untuk menyiapkan modal untuk kemajuan bangsa dan  membangun kembali sumber daya manusia/generasi penerus yang lebih baik dari kondisi sekarang.

Jika kita renungkan berbagai permasalahan yang dihadapi, bangsa kita tidak hanya  membutuhkan generasi penerus yang pandai atau handal dalam ilmu pengetahuan dan teknologi saja. Lebih utama dan terpenting adalah bangsa membutuhkan generasi penerus yang memiliki karakter baik, salah satunya yaitu karakter yang tidak hanya mengutamakan kepentingan pribadi tetapi mengutamakan kesejahteraan dan kemakmuran bangsa. Karakter yang baik ini tidak bisa dipisahkan dari yang disebut dengan kebaikan  hati. Mengapa? Karena karakter yang baik akan selalu ada pada setiap manusia yang memiliki kebaikan hati.

Ada salah satu hadist Rosululloh yang intinya bahwa Di dalam tubuh manusia ada segumpal daging, apabila daging itu baik maka baiklah semuanya, tetapi jika buruk maka buruklah semuanya. Dan segumpal daging itu adalah hati. Jadi ketika kita ingin membentuk karakter pastilah tidak lepas dari hati.

Menurut Prof.Dr.H.M. Quraish Shihab: Himpunan pengalaman, pendidikan, dan lain-lain menumbuhkan kemampuan di dalam diri kita, sebagai alat ukir paling dalam hati manusia yang mewujudkan baik pemikiran, sikap, dan perilaku termasuk akhlak mulia dan budi pekerti. Jelas sekali bagi kita bahwa karakter dan kecerdasan hati adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Ketika kita ingin memberikan pendidikan karakter maka harus dengan hati.

Dengan kata lain untuk menyiapkan generasi penerus, peran guru tidak hanya membekali dengan kecerdasan intelektual yang identik dengan kecerdasan otak tetapi juga kecerdasan hati untuk berbuat kebaikan. Nah, menurut penulis inilah yang menjadi paradigma baru dalam perkembangan peran guru untuk mencerdaskan bangsa. Ketika selama ini kata mencerdaskan bangsa lebih dilihat dari makna sempit yaitu sebatas kecerdasan intelektual/kecerdasan otak maka sekarang inilah harus dibukakan pemikiran kita bahwa masih harus ada yang dicerdaskan dari generasi penerus bangsa yaitu kecerdasan hati.  Menurut saya pribadi bisa dikatakan bahwa roh dari pendidikan karakter yang telah dicanangkan adalah bagaimana kita mampu memberikan kecerdasan hati kepada peserta didik.

Selanjutnya, bagaimanakah cara guru mencerdaskan otak dan hati? Sebelum membahas caranya, mungkin kita perlu membuat kesamaan konsep tentang apakah itu kecerdasan otak dan kecerdasan hati

Kecerdasan Otak dan Kecerdasan Hati

Kecerdasan otak  mungkin lebih mudah dipahami jika dihubungkan dengan pikiran manusia. Ilmu pengetahuan, teknologi, sains merupakan ilmu yang dicerna manusia melalui pikiran dan berhubungan dengan kerja otak.

Sedangkan kecerdasan hati berhubungan dengan perasaan, dan karakter seseorang. Bagaimana kemampuan seseorang mengelola perasaannya akan mempengaruhi karakternya. Inilah yang dimaksud dengan kecerdasan hati. Jika seseorang mampu mengelola perasaannya menuju kebaikan artinya ia telah memiliki hati yang cerdas dan mampu membentuk karakter yang baik pula.

Bagaimana Cara Guru dalam Mencerdaskan Otak ?

Peran guru dalam mencerdaskan otak peserta didiknya lebih banyak berhubungan dengan kompetensi profesional dan pedagogik guru. Banyak cara yang dapat dilakukan oleh seorang guru dalam mencerdaskan peserta didiknya, yaitu baik secara langsung maupun tidak langsung.

Secara langsung artinya cara yang langsung dirasakan oleh peserta didik. Pada era globalisasi sekarang ini pembelajaran tidak lagi terbatas dalam konteks kelas yang sempit. Guru dapat memberikan ilmu melalui fasilitas di internet seperti blog yaitu dengan memposting materi pelajaran yang memperkaya pengetahuan siswa diluar pembelajaran di kelas. Selain itu guru juga dapat memberikan soal ulangan di blog tersebut seperti dicontohkan pada blog omjay www.wijayalabs.com. Dengan mempelajari materi dan soal untuk berlatih apalagi yang menarik tentunya akan membuat otak berpikir. Dan berpikir artinya menggunakan otak kita. Semakin diasah otak dengan berpikir maka akan merangsang otak semakin cerdas

Secara tidak langsung yaitu dengan meningkatkan kompetensi guru sendiri baik. Contohnya dengan peningkatan pengetahuan, penguasaan keilmuannya (materi) dan peningkatan kualitas pembelajaran yang dilakukannya, baik melalui penggunaan media pembelajaran, model pembelajaran bervariasi ataupun penelitian tindakan kelas (PTK). Peningkatan kompetensi guru ini dapat dilakukan dengan banyak mencari informasi dari berbagai sumber baik buku/literatur maupun dari internet seperti dalam blog www.wijayalabs.com . Dalam blog ini banyak dituliskan pengalaman penulis yang sangat menarik sehingga membuat para pembaca (guru) ikut termotivasi dengan tulisan-tulisan tersebut (termasuk saya sendiri). Blog ini juga dapat sebagai barometer perkembangan pendidikan bagi para guru di daerah. Tentunya dengan informasi-informasi yang selalu up to date di blog ini akan memotivasi para guru untuk menambah pengetahuannya. Atas beberapa manfaat tersebut tentunya kita berharap www.wijayalabs.com akan semakin kaya dengan tulisan-tulisan untuk berbagi ilmu dengan para guru.

Bagaimana Cara Guru dalam Mencerdaskan Hati ?

Ada kata-kata bijak:

We cannot teach what we want, we only teach what we are”

Artinya : kita tidak bisa mengajarkan apa yang kita inginkan, tetapi kita hanya bisa mengajarkan sebagaimana apa adanya diri kita.

Mengajarkan kecerdasan hati sangatlah sulit jika guru itu sendiri juga belum memiliki kecerdasan hati. Sosok guru sejati yang dapat mengajarkan kecerdasan hati adalah seorang guru yang  nasehat, tindakan, perilaku dan sikapnya mencerminkan ketulusan hati, keikhlasan, kesungguhan hati dan kebermanfaatan bagi anak didiknya. Membentuk karakter baik siswa, pada hakekatnya adalah bagaimana seorang guru mampu mengajarkan kecerdasan hati.

Kesungguhan kita dalam menjalankan kewajiban sebagai guru tidak akan lepas dari apa yang ada di dalam hati kita.

Nah, ini sedikit bercerita tentang pengalaman saya pribadi mengapa akhirnya menjadi guru. Dari latar belakang pendidikan sarjana, sebenarnya saya berasal dari ilmu murni (non kependidikan). Selesai kuliah saya mendapatkan pekerjaan menjadi pengajar di salah satu universitas swasta di Jawa Timur. Saya merasa ada yang kurang saat mengajar para mahasiswa tersebut. Ada rasa tidak puas ketika saya hanya menyampaikan materi kuliah tanpa ada pembelajaran lain yang lebih humanis, mengarahkan kepada perkembangan individu. Saya tidak puas ketika para mahasiswa tidak antusias dengan materi yang saya sampaikan. Pada saat itu saya merasa membutuhkan teknik pembelajaran yang menyenangkan bagi meeka. Saya teringat dengan perkataan guru SMA dulu, yang kurang lebih intinya: “Dosen belum tentu bisa menjadi guru”. Dan sejak saat itu ada keinginan dari hati saya untuk bisa menjadi guru yang tidak hanya mengajar, tetapi membimbing, memotivasi siswa agar semangat untuk belajar dan meraih kesuksesan serta memberikan pencerahan untuk meraih impian mereka. Dan ternyata Tuhan akhirnya memberikan kesempatan kepada saya untuk belajar menjadi “seorang guru”. Kesempatan yang sangat saya syukuri karena Tuhan telah membuat saya bermanfaat bagi anak didik dalam meraih bintang-bintang yang mereka impikan, mendampingi mereka dalam suka duka meraih asa dan kesempatan untuk belajar dari mereka.

Sedikit ngelantur ya ceritanya, tetapi inti cerita tersebut adalah kesungguhan dan ketulusan hati dalam menjalankan kewajiban sebagai guru tentunya akan dapat dirasakan/dilihat oleh peserta didik kita.  Ketulusan dan keikhlasan seorang guru dalam menjalankan tugasnya akan menarik hati peserta didik, akan menggerakkan hati mereka untuk mendengarkan petunjuk, mentaati nasehat dari guru mereka. Karena kecerdasan hati hanya dapt diajarkan melalui hati.

Kunci Utama Keberhasilan Guru dalam Mencerdaskan Bangsa

Dalam mencerdaskan bangsa (kecerdasan otak dan hati) ada kunci utama sebagai seorang guru yang dirumuskan oleh Bapak Pendidikan kita Ki Hajar Dewantara yaitu ing ngarso sung tulodo, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani.

Ing ngarso sung tulodo di depan memberi teladan. Guru sebagai teladan sangat dibutuhkan untuk memberi contoh kebiasaan-kebiasaan baik yang akan menbentuk karakter peserta didiknya.

Ing madyo mangun karso, di tengah membangun kreativitas. Seorang guru juga harus kreatif. Pembuatan blog oleh guru contohnya www.wijayalabs.com akan membuat anak didik termotivasi untuk memanfaatkan teknologi untuk hal-hal yang positif, memotivasi mereka untuk meningkatkan pengetahuannya. Penggunaan media pembelajaran yang kreatif oleh guru juga dapat meningkatkan motivasi siswa dalam belajar.

Terakhir tut wuri handayani, di belakang memberi dukungan. Guru harus mampu memberikan dukungan motivasi ketika di belakang. Seorang guru pada masa ini dituntut mampu menjadi motivator bagi anak didiknya karena tanpa adanya motivasi seringkali para siswa malas bahkan tidak memahami tujuannya ke sekolah (belajar).

Akhirnya dari tulisan ini saya menyimpulkan bahwa dalam mencerdaskan bangsa maka seorang guru harus mampu menjadi penyampai ilmu dan penyejuk qolbu (hati). Artinya seorang guru harus mampu menyampaikan ilmu baik secara langsung (ceramah) atau secara tidak langsung melalui metode pembelajaran tertentu. Dan seorang guru juga harus mampu menjadi sosok pribadi yang menyejukan hati peserta didiknya dan membawa mereka menuju kebaikan hati dan karakter.

Semoga bermanfaat dan silahkan memberi masukan untuk saling berbagi ilmu.